Jemari tangan Aisyah masih menari
di atas tuts-tuts piano tua itu. Menebarkan jutaan nada yang berdenting
halus memukau jiwa. Dia masih asyik memanjakan hasratnya, terbelenggu
dalam lantunan melody yang terangkai merdu. Dia masih sibuk disana,
menghabiskan waktu untuk bermain alat musik kegemarannya.
Nampaknya lantunan melody piano
berhasil memenangkan pendengarannya. Aisyah kini tak menyadari handphone
nya telah ribut berkicau cukup lama.
Setelah cukup puas bermain, Aisyah lalu memilih untuk menyudahi konser
kecilnya. Betapa lelah otot-otot serta jemari mungil itu. Sambil
berelaksasi, dia memalingkan wajah dan seketika menyadari bahwa dirinya
baru saja mendapatkan mini heart attack.
Dengan segera dia beranjak dari kursi kecil itu. Diraihnya sebuah handphone yang sedari tadi terkapar dan teracuhkan di atas sofa. Dengan hati penuh kecemasan, Aisyah membuka gadget mungilnya dan mendapati beberapa unread messages serta missed calls dari Nanda sang kekasih. Kini perasaannya semakin tak tenang.
Benar saja, semua pesan yang
dibaca dengan perasaan was-was dan takut itu kini menjelaskan secara
terang benderang. Seperti biasanya, Nanda mulai berkicau panjang lebar,
marah-marah dan banyak meletakkan tanda seru di setiap kalimat yang dituliskannya.
Ya, Aisyah tak begitu terkejut
mendapati dirinya dibantai habis-habisan dengan kalimat yang tidak enak.
Dia tau betul sifat pacarnya itu, yang selalu marah-marah jika smsya
lambat dibalas, telponnya tak kunjung diangkat, mention twitter
tenggelam, atau jika Aisyah sedang sibuk melakukan sesuatu sehingga
dianggap tidak perhatian dan melupakannya. Memang ini terlihat sangat
complicated, tetapi gadis ini masih bersabar. Telapak tangannya lalu
diusapkan lembut di dada. Dia tidak mau ikut-ikutan tersulut emosi. Ya,
setidaknya hanya untuk mendinginkan suasana kala itu. Tidak ada guna
berkelahi, pikirnya.
Jalan raya
itu kini semakin ramai. Berisikan insan yang hendak kembali ke rumah
setelah lelah beraktivitas seharian. Tergambar jelas pergulatan antara mobil dan motor kala itu. Saling bersaing menebarkan polusi udara dimana-mana.
Nanda mulai mengerutkan dahinya. Berulang kali menerobos pandang ke arah luar dari balik kaca jendela sebuah café.
Dia memang sengaja memilih tempat di pojokan, tepat menghadap kaca
jendela berukuran sekitar 3×2 meter yang berornamen kupu-kupu.
Satu-satunya alasan yaitu karena tempat itu dirasa sangat strategis
untuk segera menangkap bayangan orang yang ditunggunya jika telah tiba
nanti. Berulang kali Nanda mengganti posisi duduk sembari meremas-remas
jemarinya dengan gelisah. Memang hal menyebalkan apalagi yang sedang
dilakukannya selain menunggu Aisyah?
Tak berapa lama kemudian sang
gadis yang ditunggupun akhirnya datang. Tersirat jelas raut wajah Aisyah
yang gelisah, jauh lebih gelisah daripada sosok di hadapannya itu. Dia
tau pasti Nanda akan marah dan ngomel-ngomel lagi.
“Kenapa lama sekali sih!” Nanda
memulai pembicaraan dengan nada ketus. Tentu saja itu bukan cara memulai
pembicaraan yang baik, apalagi kepada seorang wanita.
“A-aku baru pulang kuliah” Dengan gugup Aisyah lalu mengambil tempat tepat di depannya.
“Bukannya kamu sudah keluar dari setengah jam yang lalu? Naik taksi
kesini butuh waktu selama itu ya?” Nanda berbicara seolah menyudutkan
posisi gadis yang sedang duduk tepat di hadapannya.
“Ya kamu sabar dong. Kan aku pulang juga gak langsung buru-buru naik taksi” Aisyah berusaha menjelaskan dengan tenang.
“Iya, kan masih asyik cerita dengan teman-teman cowok kamu hahaha” Nanda
mulai menyindir lagi. “Tega banget ya, sudah tau kita udah janjian
ketemu, eh kamu malah sengaja biarin aku nunggu lama”
“Ya ampun Nanda, bukan begitu. Ah mau dijelasin kayak
apa juga pasti kamu tetap bakal marah dan gak percaya kan. Ya udah
maaf” Gadis itu tertunduk, mengepalkan kedua tangannya erat-erat. Dia
sungguh kecewa dengan sikap pacarnya barusan.
Aisyah kini menjadi serba salah.
Dia kebingungan merangkai kata untuk menjelaskan semuanya. Karena dia
tau apapun dan bagaimanapun penjelasan yang diberikan, ujung-ujungnya
dia tetap akan menjadi kambing hitam yang selalu terpojokkan dan tidak
memiliki hak untuk membela diri. Mengapa semua menjadi serumit ini?
“Ya udahlah kita lupain aja
masalah itu. Yang penting sekarang kamu sudah datang” Seperti ada
sedikit cahaya di mata Aisyah ketika mendengarnya. Akhirnya Nanda sudah
tidak mempermasalahkan hal tadi lagi. Gadis bermata cokelat itu kini
bisa sedikit bernapas lega.
“sekarang ini aku mau certain ke kamu tentang temen kerja aku di kantor.
Dia itu sangat menyebalkan!” Nanda seperti robot yang sudah disetting
untuk selalu marah. Baru saja satu masalah terselesaikan kini ada saja
masalah baru yang muncul. Aisyah tau hal apa yang harus dilakukannya
sehabis ini. Seperti biasa dia hanya harus ‘mematung’. Ya, layaknya
boneka yang hanya disuruh diam mendengarkan keluh kesah si pemilik tanpa
berucap apapun. Seperti mainan pelampiasan emosi.
Tentu saja mood
Aisyah jadi berubah total. Dia capek-capek pulang kuliah hanya untuk
mendengarkan cerita gak penting cowok itu? Aisyah tertunduk lagi,
matanya sayu. Sabar Aisyah, sabar saja dulu. Batin Aisyah
menjerit-jerit. Nanda ternyata cukup peka dalam melihat perubahan mimik
wajah kekasihnya. Tetapi bukan hanya itu, perhatiannya kini lebih
tertuju pada kedua kelopak mata Aisyah.
“Hey tunggu dulu, apa itu di mata kamu?” Nanda mulai memicingkan kedua bola matanya.
“Apa? Oh ini eye liner. Memangnya kenapa?”
“Kamu kok tumben pakai kayak gituan? Aku gak suka, gak natural! Gak usah
ikut-ikutan teman-teman kamu yang dandanannya menor! Jangan-jangan kamu
mau memikat hati cowok lain!” Nanda melipat kedua tangannya, melotot
hingga kedua bola matanya hampir melompat keluar beserta saraf-saraf
yang timbul di dahinya. Wajahnya nampak sangat merah seperti tomat yang
sudah matang.
“Ya Ampun, apa-apaan sih kamu ini. Aku pakai ginian aja kamu sampai
mikirnya negative kayak gitu? Kamu tega sekali ngomong seperti itu. Kamu
gak pernah mikir perasaanku Nanda!” Seketika Aisyah shock. Seperti ada
papan kayu besar yang menumbuk dadanya. Lagi-lagi dia salah, selalu
salah.
“Sudahlah Nanda. Jika kita lanjutkan perbincangan ini, akan ada ratusan
lagi topik perkelahian baru yang kita mulai. Lebih baik aku pulang saja
sekarang”
Aisyah langsung berpaling tanpa menunggu jawaban dari lelaki yang nampak
geram di belakangnya. Dia memilih untuk tidak menggubris setiap
pandangan mata orang-orang sekitar yang melihat ke arah mereka berdua.
Apalagi menggubris cerocosan penuh amarah sang kekasih. Sungguh tak
penting lagi. Saat itu pikirannya hanya satu, pulang.
Aisyah kini mendapati dirinya sedang duduk di kursi belakang sebuah angkot tua yang penuh sesak. Irama lagu rock
anak muda jaman sekarang sedang ramai bersenandung memekan telinga.
Namun jauh di dalam sana, di hati Aisyah, dia sedang kesepian.
Pikirannya campur aduk. Dia masih tidak habis pikir dengan sikap orang
yang disebutnya sebagai kekasih itu. Yang seharusnya mendukungnya dalam
berbagai hal, termasuk kuliah. Tetapi kenyataannya tidak. Dia kini
menjadi lebih risau ketika teringat akan ujian blok yang harus
dihadapinya besok. Namun karena pertemuan tak berarti tadi, waktu
belajar dan pikirannya harus tersita. Otaknya kini sudah lelah. Batinnya
terselimuti oleh gundah.
Sore itu awan mulai bergeser merebut posisi matahari. Menutupi bola api
raksasa sehingga menaburkan eksotika warna jingga di langit. Ah, efek
tyndal memang selalu cantik. Tergambar jelas lukisan Tuhan yang mampu
mempesona setiap pasang bola mata. Subhanallah, Sunggu indah ciptaanMu
ya Rabb, Tuhan semesta alam.
Terdengar pelan suara langkah
kaki Aisyah yang menginjak kerikil-kerikil kecil sepanjang menelusuri
sebuah jalan setapak menuju tempat untuk pulang, rumah. Dia sedang
galau. Seperti sesuatu yang teramat berat sedang ditopang batinnya.
Beribu kali segala pikiran-pikiran buruk coba dihempaskan, tetapi
nyatanya tak bisa. Segala hal buruk yang terjadi telah sukses
menggerogoti semua memorinya hingga habis sudah segala yang baik di
sana.
Dia menjadi lebih sakit hati
ketika mengingat saat dirinya dituduh selingkuh dengan teman sekelasnya
hanya karena terpaksa menerima ajakan temannya untuk diantar pulang.
Menerima tawaran itu bukan tanpa alasan. Saat itu semua tugas kelompok
baru saja terselesaikan di saat hari telah cukup larut dan akan bahaya
jika dia naik taksi sendiri malam-malam. Sekalian juga rumah mereka
searah. Tetapi Nanda dengan segala keegoisannya tetap tak mau mengerti.
Selalu saja begini.
Aisyah lalu tersadar dari lamunan
masa lalu itu. Dia secara refleks menggoreskan lekukan tipis di pipi
yang disebut senyum. Senyuman itu palsu, tercurah dari dalam hati yang
lebam dan membiru. Ini untuk kesekian kali dia pulang dari bertemu
kekasih dalam keadaan berkelahi.
Baru saja dia sampai di depan
rumah dan hendak memegang daun pintu yang berlapis logam alumunium,
tiba-tiba terdengar sayup-sayup suara adzan dari arah barat. Seketika
cairan hangat berwarna bening di pelupuk matanya tumpah, tak mampu
terbendung. Tidak, kali ini Aisyah tak kuat lagi.
“Ya Allah, aku lelah dengan semua ini. Aku ingin pulang. Aku ingin
kembali kepadaMu. Aku telah pergi terlalu jauh, semakin jauh dariMu” dia
kini menjerit dalam hati yang merana. Namun hanya isak tangis yang
mampu terdengar pelan karena berusaha ditahan.
Sejujur tubuhnya terasa lemas. Kepalanya pusing, telapak tangannya
terasa dingin. Dia lalu mengambil beberapa langkah gontai menuju kamar
mandi.
Gemericik air mulai terdengar.
Air wudhu itu kini mengalir membasahi tubuh Aisyah. Kening yang lama tak
mencium sajadah kini mulai sujud menyembah Allah. Di saat seperti ini
tubuhnya terasa kaku. Dirinya terasa bagaikan debu.
Ya Tuhanku, aku bukan siapa-siapa di mataMu. Bisikan itu terdengar jauh
dari dalam hatinya. Ya, suara hati yang sekian lama tak pernah berucap.
Dia kini bercerita, mengadu, berkeluh kesah kepada Tuhan-nya, Allah.
Sajadah itu kini mulai basah karena air mata Aisyah yang tumpah. Dia
kini terisak, menangis, tersedu-sedu.
Segala memori silam seperti
terputar kembali. Flashback tentang semua hal yang terjadi dalam
hidupnya. Dia kembali teringat di masa saat Nanda belum membubuhkan
benih-benih yang disebut cinta. Dia teringat saat dirinya bebas bergaul
dengan siapa saja. Dia teringat saat warna merah muda dan film Barbie
menjadi kesukaannya. Walaupun itu terlalu kekanak-kanakan. Bukan seperti
dirinya saat ini yang ‘terpaksa’ menyukai warna biru dan segala jenis
film action yang menurutnya sama sekali tak ada bagus-bagusnya. Dia juga
teringat saat IPK di atas 3 selalu menjadi nilai akhir di setiap
semesternya. Tetapi sekarang? Nilainya sungguh merosot tajam. Semua hal
baik dimasa lalu harus dibiarkan padam hanya demi sesosok lelaki tampan.
Aisyah kini menangis
sejadi-jadinya ketika mengingat semua hal buruk yang menimpa hidupnya.
Jadi ini salah siapa? Dia kini menyadari bahwa kehadiran Nanda hanya
akan memperburuk keadaan, hanya akan menghambat masa depan. Bahkan
dialah tersangka dari semua ini. Aisyah menyadari ini tak sebanding.
Antara apa yang dia berikan dan yang justru dia dapatkan.
Tiba-tiba suara hatinya
terdengar. Berontak, menjerit dalam diam. “Aku harus berubah! Aku harus
kembali seperti Aisyah yang dulu” dan saat itu, di satu waktu, Allah
masih setia mendengarkannya mengadu.
“Apa yang pantas aku pertahankan
dari pacar posesif kayak gitu? Aku merasa bodoh sekali selama ini. Mau
dijadikan manekin yang harus selalu patuh dengan segala perintah.
Padahal dia sama sekali tidak menyumbangkan hal baik dalam hidupku.
Hanya cinta semu yang justru menghanyutkan. Hanya menggantungkan asa
yang kini remuk tak berbentuk”
Aisyah seperti sedang menasehati diri sendiri. Menyadari apa yang selama
ini dilakukannya salah. Menyadari bahwa cinta bukan semata mengikuti
kemauan si dia. bukan juga menjadi orang lain dan rela kehilangan jati
diri.
“Aku harus berubah. Layaknya sebuah ulat yang bermetamorfosis menjadi
kupu-kupu. Kenangan-kenangan masa indahku yang sempat terkubur harus aku
gali kembali. Jati diri yang sempat hilang harus aku raih lagi. Masa
lalu yang kelam bersama lelaki itu harus segera aku tinggalkan. Karena
cinta seharusnya saling
mendukung, bukan semata mengikuti kemauan salah satu pihak dan
mengekang yang lainnya. Sama sekali bukan simbiosis parasitisme
melainkan mutualisme” seperti mendapat semangat baru. Kini Aisyah tau
bahwa dirinya yang dulu telah kembali, bahkan bermetamorfosis menjadi
pribadi yang lebih kuat dan tegar untuk memperbaiki diri dan belajar
dari masa lalu yang kelabu. Tekad Aisyah sudah bulat. Hubungan yang
selama ini telah dijalin bersama Nanda akan segera dia putuskan esok.
Tak perlu lagi membuang waktu untuk lelaki yang tak bisa menghargai
perempuan yang mencintainya. Jangan biarkan cinta membodohimu.
Ketika kamu merasa tak ada seorangpun yang mau mendengarkanmu
Sesungguhnya Allah adalah tempat terbaik untuk mengadu
Ketika kamu merasa tak ada lagi tempat untuk pulang
Sesungguhnya Allah akan selalu senang menerima dirimu untuk kembali datang
Ketika kamu merasa masalah sangat menyiksa
Sesungguhnya Allah akan selalu menjamah setiap doa hambaNya
Bagi mereka yang mau menengadahkan tangan, mengikhlaskan jiwa, untuk mendekatkan diri pada sang Pencipta.
Kedua telapak tangan Aisyah yang
sedari tadi menengadah ke langit tuk memohon kepada sang Khaliq, mulai
diusapkan ke wajah sambil berkata ‘amin’.
Dia tau, kini pemikirannya telah kembali jernih. Perempuan itu lalu
tersenyum bahagia dan berterima kasih kepada Tuhan-nya, Allah SWT, sang
maha penyayang atas segalanya. Dia sekarang merasa jauh lebih tenang.
Seharusnya pinta Tuhanmu-lah yang selalu kamu turuti. Bukan malah
kekasih duniawi yang diijinkanNya untuk mengisi hidupmu saat ini.
Ingatlah ungkapan klise yang mengatakan ‘Pacarmu belum tentu Jodohmu’
Seharusnya Tuhanku, Bukan Kamu!
Senyummu Membuatku Jatuh Cinta
Kring… Kring… Kring suara bel istirahat pun berbunyi, aku menyimpan buku catatan dan alat tulisku ke dalam tas dan mengajak teman yang baru aku kenal pas di MOS (masa orientasi siswa) ke kantin.
“Indri… kita ke kantin yukkkk!..”
“yukkk…” sambil membereskan bukunya ke dalam tas
Kita berjalan menuju ke kantin. Pas sampai di kantin aku lihat Husni. Kenapa aku terus memperhatikannya dan anehnya kalau aku ngelewatin dia rasa itu muncul lagi.
Sesampainya di kelas aku gabung sama sekumpulan temanku yaitu Indah, Siti, Dian, dan kita ngobrol bareng.
Suatu hari wali kelas kita menyuruh kita untuk membuat Organigram dan jadwal piket. Aku, Ami, Siti pun langsung mengumpulkan uang dari semua siswa di kelas kita. Setelah itu kita membeli barang yang akan dibutuhkan untuk membuat organigram dan jadwal piket. mengerjakannya di rumah Ami.
“Nid cowok yang kamu sukai di kelas itu siapa sih?”
“Aku tau pasti husni kan!”
‘kenapa dia tau apa aku harus bilang, mungkin dia gak comel kali ya orangnya’ pikirku di dalam hati
“Ehhhh… kok bengong bener kan!”
“sebenarnyaaa…iya sih”
“tuh kan bener”
Aku pikir mungkin dia gak comel kali, langsung aja aku melanjutkan untuk menghias jadwal piket.
Keesokan harinya saat pelajaran berlangsung temen-temenku ribut membicarakan kalau aku suka sama Husni ukhhh… aku pikir Siti itu gak comel, tau-taunya bukan sama temen-temen aku aja dia bilang, tapi dia juga bilang sama Husni juga. Aku gak nyangka dia secomel itu. Dan yang lebih parahnya lagi, dia bikin surat tapi nama pengirimnya itu jadi aku padahal kan Siti yang nulis surat itu bukan aku. Di surat itu ditulis satu kalimat I LOVE U itu juga aku tau dari Siti. Aku sangat malu rahasia ku terbongkar semua.
Beberapa hari setelah itu teman-teman Husni termasuk juga husni pada pindah, aku pikir gara-gara aku dia mau pindah, ternyata enggak katanya sih jauh dari rumah.
Hari demi hari ku lalui tanpa senyumannya. Pada suatu hari dia mengirim surat kepada ku lewat kakak kelas, ku pikir dia menghiraukannya tapi ternyata dia juga suka kepadaku dan kita pun jadian. Memang kita jarang ketemu, mungkin karena kita gak sama sekolahnya.
Agak lama aku pacaran dengannya, tiba-tiba temanku memperlihatkan status di media sosialnya Husni dia tulis dua orang yang dia sukai, aku gak nyangka dia menduakan cintanya, ku putuskan untuk putus dengannya meski berat tapi aku harus putuskan dia.
SELESAI
Lelaki Sejati
Namaku Doni (27), aku mempunyai seorang istri bernama vina (25). Aku
sudah 5 tahun menikah dengan vina namun belum mempunyai anak. Itu semua
karena aku memang belum siap memiliki anak. Dan karena sebuah pengalaman
yang begitu rumit. Vina adalah seorang istri yang sempurna menurut
saya. Namun sangat hina menurut ibu dan bahkan mertua saya sendiri.
Walau begitu cintaku padanya tidak akan pernah hilang. Seperti sinar mentari yang tak henti-hentinya menyinari bumi sampai hari akhir kelak akan datang.
Saat itu aku berusia 12 tahun, dan disaat itulah aku merasa semua
telah hilang. Laksana rumah tua, yang dahulu indah menjadi buruk dan
lapuk. Disaat itu seorang lelaki yang saya hormati dan banggakan pergi
menghianati seorang wanita yang sangat saya cintai dan saya kagumi.
Setelah kejadian itu saya buta akan dunia saya terjerumus ke dunia
gelap. Kerjaan saya hannya mabuk-mabukan, j*di, berkelahi, dan nark*ba.
Ketika itu saya benar-benar buta. Namun cinta seorang ibu yang tabah
walau, dia sendirian namun masih sanggup menghidupi dan menyekolahkan
aku. Saat itu aku bertanya-tanya apa yang membuat seorang ibu tetap
mencintai anaknya yang nakal, hina, dan yang pasti hanya menyusahkan.
Ketika disuruh sholat saya kabur, disuruh beres-beres saya pura-pura
tidur, di suruh sekolah saya bolos,
dll. Namun kenapa cintanya tidak pernah berkurang sedikitpun. Aku
sangat bingung dan akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya.
“Bu, lagi apa?”, tanya ku.
“Ibu lagi nyuci nak, ada apa?”,kata Ibu.
“Boleh gak saya bertanya pada Ibu?”, aku bertanya lagi.
“Boleh, memang kenapa nak?”,ibu berkata sambil terheran-heran.
“Apa yang membuat ibu sayang
sama aku yang sudah menyusahkan ibu, yang sering buat ibu menangis, dan
yang paling jahat sama Ibu?” aku berkata sambil menangis.
“cinta sejati seorang ibu pada
anaknya tak akan pernah padam walau seluruh hambatan dan rintangan
melanda” Ibu berkata sambil tersenyum haru.
“Maafkan aku Bu, aku sudah buta aku sudah membuat Ibu sakit, ditambah
kepergian Ayah dengan wanita lain” sang anak menangis sambil memeluk
sang Ibu.
“Tak perlu kamu minta maaf, itu semua karena ibu. Ibu tak sanggup
mengajarimu sendiri, kamu tidak salah karena tak ada yang bisa
mengajarimu menjadi individu yang baik.” Ibu menjawab.
“Mulai saat ini aku akan berubah Bu, aku janji akan membuat ibu bahagia.” Jawab sang anak.
“ya sudaah sana makan dan berangkat sekolah.” Jawab sang Ibu
“Baik bu” jawab sang anak sambil pergi ke meja makan.
Saat itu aku hannya bisa memikirkan janjiku dan aku ingin melupakan
kejadian-kejadian yang telah berlalu. Lambat laun aku berusaha dari nol,
aku belajar, belajar dan belajar. Sabil berdoa. aku berusaha. Akhirnya
usahaku membuahkan hasil aku diterima di Universitas terbaik di indonesia dan mendapat beasiswa. Setelah lulus kuliah aku diterima di perusahaan ternama dan menjadi orang kaya. Aku membuat banyak panti asuhan, panti jompo, musholah, masjid, dll. Janji ku kepada ibu sudah terpenuhi.
Dan tak lama kemudian Ibu
bertemu dengan sahabatnya dulu dan berniat menjodohkan aku dengan
anaknya sahabat ibu. Aku setuju-setuju aja asal ibu bahagia. Tak lama
kemudian aku menikah dengan vina (anak sahabat ibu) namun sepertinya
vina tidak bahagia. Dan aku mulai berfikir jika vina adalah ibuku dan
aku berfikir tentang ayahku, aku tidak mau menjadi lelaki yang jahat.
Dan akhirnya aku berjanji untuk membahagiakannya di dalam hati. Hari itu
setelah acara pernikahan, kami berdua masuk ke kamar pengantin. Namun,
aku tidak berani memandangnya, aku tau dia tidak ingin menikah denganku.
Akhirnya aku berkata memecah suasana.
“Vina maafin aku, Ibuku, dan Ibumu ya, aku tau kamu tidak ingin dijodohkan denganku.” Aku berkata.
“Iya memang aku kesal dengan pernikahan ini.” Seperti marah.
“Ya sudah begini saja kau boleh pacaran dengan lelaki lain, namun tolong
jika ada keluarga kita, kita tetap berdua. Ya sudah ini sudah malam
kamu tidur di kasur biar aku tidur di bawah saja.” Aku berkata.
“Ya sudah aku tidur, makasih ya kamu sudah mau ngertiin aku.” Jawabnya.
“iya sama-sama.” Jawab ku.
Ke esokan harinya aku membuat sebuah makanan dan minuman untuk vina dan bertanya.
“Ehhh… Vina kamu udah bangun. Ini aku buatkan sarapan untuk kamu,
dimakan ya, kalau kamu mau pergi tinggal panggil supir atau kamu boleh
bawa mobil ku. Aku berangkat kerja dulu.” Kata ku
“Iya makasih Don, Hati-hati di jalan.” Jawabnya
Sesampainya di kantor aku berfikir tentang keluarga ku dan berjanji
akan mencintai vina selamanya. Tak lama kemudian aku sudah mulai akrab
dengan Vina namun tetap saja aku tidak berani menyentuhnya. Bahkan aku
belum pernah sekalipun menyentuhnya kecuali di pernikahan. aku mulai
menyelidiki Vina ternyata dia punya seorang pacar yang ia sembunyikan.
Aku sangat sakit saat itu namun apa daya. Itu semua demi kebahagiaan
Vina.
Tak lama kemudian Vina jatuh sakit, dia demam namun dia tidak mau
dibawa ke dokter dan hanya dirawat di rumah. Karena aku tidak berani
menyentuhnya aku menyuruh pembantu untuk memeriksa suhu tubuhnya. Aku
jaga dia selama 2 minggu aku tidak kerja aku hanya menjaganya karena aku
mencintainya. Akhirnya dia sembuh dan kembali seperti semula.
Tak lama kemudian kepala ku mulai terasa sakit dan aku periksa ke
dokter ternyata umur ku tinggal 1 bulan lagi. Karena aku terkena kanker otak. Aku jatuh mendengarnya. Aku rahasiakan itu semua dari keluarga dan Vina.
Beberapa hari kemudian ketika aku pulang ke rumah. Rumah ku terlihat
sangat ramai dan ternyata setelah masuk seluruh keluargaku datang dan
mereka memergoki Vina dan pacarnya sedang berset*buh. Vina dan pacarnya
dibawa keluar dan di marahi oleh ibuku dan kedua orangtuanya. Aku pun
sigap melindungi Vina dari pukulan-pukulan yang dilayangkan oleh kedua
orangtuanya sendiri.
“Kenapa kamu melindungi dia Doni?” Ibu Vina bertanya.
“Cinta sejati bu” Aku menjawab
“Tapi dia telah menghianatimu” Bapak Vina berkata.
“Aku menjawab tak apa aku sudah tau sejak lama” Jawabku
“Lalu kenapa kau tidak memarahinya?” Tanya Ibuku
“Begini Bu, sebenernya aku sudah tau sejak lama, namun aku tidak mau
merusak hubungan mereka. Aku kasian kepada Vina karena telah di paksa
menikah dengan ku. Memang aku sangat mencintai Vina namun. Aku juga
berterimakasih kepada pacarnya, karena dia telah membuat Vina bahagia,
tersenyum, dll. Sedang kan jika
dengan aku berbanding terbalik. Aku tidak mampu melihat Vina bersedih
hati dan aku tidak mampu membahagiakan dia.” Aku menjelaskan.
“Lalu bagaimana tentang perasaan mu?” tanya Ibuku.
“hahahahaha… tidak apa Bu. Walau sakit rasanya tapi jika melihat
senyumnya yang manis menurutku itu sepadan dengan harga yang harus aku
bayar. Sudah karena semua sudah ngumpul bagaimana kalau Bapak dan Ibu
menginap disini” Jawab ku.
“ibu tak tau apa yang ada dipikiran mu bisa sampai segitunya mencintai
anak Ibu yang pendusta ini, maafkan anak Ibu ya nak. Ya sudah kami
nginap disini” Jawab Ibu Vina
Keesokkan paginya. Aku berpamitan namun belum sempat aku membuka
pintu kepalaku sangat sakit sampai aku jatuh, namun aku berusaha untuk
bangkit dibantu Ibu mertuaku. Dan semua berkumpul di dekatku.
“Don kenapa kamu?” Tanya Ibu mertuaku
“Tidak apa-apa bu.” Jawab ku
“Kamu sakit kok muka kamu pucat sekali.” Tanya Ibu mertuaku lagi
“Benar tidak apa-apa” Jawab ku
“jangan bohong pada ibu katakan yang sejujur-jujurnya” kata Ibuku
“ya sudah, aku sedang buru-buru bu kalau ibu mau tau ada apa sebenarnya
ibu tinggal pergi ke tempat kerjaku, disana ada meja di atasnya ada
amplop dan buku diaryku ibu buka saja amplopnya tapi jangan buka buku
diarynya. Assalamualaikum…” jawabku dan berangkat sambil bersalaman.
“Walaikumsalam” semua menjawab.
Dengan rasa penuh penasaran semua orang berlari-lari menuju meja
kerjaku dan membuka amplopnya dan alangkah terkejutnya mereka semua
melihat penyakit yang kuderita semua menangis karena terkaget-kaget. Dan
tak lama kemudian mereka penasaran dengan buku diaryku dan membukanya
bersama-sama. Alangkah terkejutnya mereka membaca diaryku.
Dear Diary hari ini Vina sakit tak sanggup rasanya melihat dia
terbaring lemah tak berdaya apa itu semua kesalahan ku. Aku tidak bisa
menjaganya memang aku adalah lelaki yang bodoh aku tak pantas jadi
laki-laki
Dear Diary aku sangat takut dengan penyakitku aku tidak tau harus
bagaimana lagi aku belum siap untuk pergi meninggalkan mereka semua,
khususnya Vina Cinta sejatiku. Aku tidak tau apa yang membuat aku tidak
siap semua yang kusuka aku punya hartaku banyak, aku sering beribadah,
namun masih ada yang mengganjal di hatiku. dan setelah kupikir-pikir aku
tau yang aku inginkan hanya satu kata yakni suamiku dari Vina namun
sepertinya itu tak akan mungkin terjadi.
Dear Diary hari ini Vina kepergok dan dimarahi oleh semuanya aku
merasa kasian kepadanya, aku tidak ingin dia di marahi mungkin ini semua
karena kesalahku. Aku tak dapat menjadi suami yang baik untuknya jadi
dia mencari lelaki lain. Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri namun
aku tak dapat berbuat apa-apa.
Setelah malam menjelang seperti biasa aku pulang jam 8 malam.
Alangkah terkejutnya aku saat membuka pintu bahkan aku tak sempat
mengucapkan salam Vina langsung memelukku dengan erat.
“Maafkan aku suamiku” Vina berkata
“Maaf? Maaf kenapa?” Aku menjawab
“aku telah menjadi istri yang hina” jawabnya
“hehehheee… kamu ini suka melawak, kamu itu sempurna. Tak punya
kesalahan, semua kesalahan mu itu karena aku yang tak bisa membahagiakan
mu. Kok jadi aneh sifat kalian, Jangan-jangan kalian membuka diaryku?”
Aku berkata
“iya kita semua membukanya.” Ibuku berkata
“aduh kan sudah aku bilang jangan dibuka.” Jawabku agak kesal namun dengan wajah tersenyum
“Suamiku sudah berapa lama kamu mengidap penyakit ini?” tanyanya.
“Tidak tau 1 atau 2 minggu yang lalu aku cek.” Jawabku
“lalu apa hasilnya?” tanya istriku kembali
“yaaa… aku terkena kanker otak stadium akhir aku harus di rawat katanya
tapi aku gak mau, aku ingin disini aku ingin melihat mu setiap hari,
karena waktuku tinggal sedikit.” Jawabku
“maksudnya” semua bertanya.
“begini kata dokter umurku kurang dari 1 bulan dan ini sudah 2 minggu
berarti waktuku di dunia mungkin kurang dari 2 minggu.” Jawabku
“apa? Kenapa kamu tidak memberi tahu kami?” semua kaget dan menagis.
Aku elap air mata yang mengalir di kedua pipi manis istriku.
“jangan bersedih, aku tidak bisa karena aku tidak bisa memaafkan diriku
sendiri jika jatuh setetes air mata dari istriku tercinta, aku tidak mau
itu terjadi jadi aku minta kalian jangan menangis.” Jawabku
“Ya sudah sekarang kita makan malam, sebelum dingin makanan di meja” istriku berkata sambil mencoba untuk tersenyum.
“nah gitu dong, itu alasan aku tetap mencintaimu karena senyum manis itu, ayo kita makan” kata ku
Semua pergi ke meja makan dan istriku memaksa untuk menyuapiku, dengan
mesra dia menyuapiku dan penuh senyum saat itulah aku merasa hidup itu
indah.
Keesokan harinya ketika mau berangkat kerja.
“suamiku apa kamu harus kerja hari ini?” tanya istriku
“iya sayang aku harus mengurus beberapa pekerjaan dan pembagian warisan untuk siap-siap” jawab ku
“tapi aku ingin bersamamu” kata istriku
“ya sudah bagaimana kalau kamu ikut kerja denganku? Nanti kita jalan-jalan” jawab ku
“iya aku mau ikut” jawab istriku
“ya sudah ayo kita berangkat” ajak ku
Setelah Vina siap-siap Vina pun pergi dengan Doni ke perusahaan
tempat Doni kerja. di perusahaan para karyawan terheran-heran siapakah
wanita yang bersama bos Doni. Akhirnya Vina pun dikenalkan dengan para
karyawan kantor yang kebanyakan adalah wanita cantik.
“Semua perkenalkan ini Istri saya namanya Vina” Kata saya memperkenalkan istri saya.
“Ow, istri bapak kok saya tidak pernah tau.” Kata Bela salah satu karyawan.
“Iya pak kok saya juga tidak pernah tau.” Kata Melia karyawan yang lain.
“Iya, saya sudah menikah dari dulu tapi saya baru sempat bawa istri saya kesini” Kata saya.
“Iya saya baru bisa kesini sekarang.” Kata Vina.
“Ya sudah sana kembali kerja.” Kata saya
“Baik pak” kata Bela dan Melia
Sesampainya di ruang kerja Vina menannyakan sesuatu kepada saya.
“Suamiku kenapa kamu tidak memilih mereka saja untuk hidup dengan mu, aku tak pantas untukmu maafkan aku”. Kata istriku.
“Aku hanya cinta kepadamu, lagipula aku sudah menikah denganmu, yang ada
di hatiku hanya kamu seorang tak ada yang lain di hatiku.” Jawab ku
“tapi kan kalau dengan ku kamu tak bahagia, aku jahat sekali sama kamu, maafin aku” kata istriku sambil menangis.
“Sudah-sudah kok kamu malah nangis sih? Kamu tidak dengar tadi aku hanya
cinta kepada mu, aku tak mungkin menduakan kamu, aku tidak mau menjadi
seperti ayah ku, lagi pula aku terlanjur cinta sama kamu, sudah jangan
menangis mukanya kayak kodok tuh” kataku sambil mengusap airmatanya.
“ihihih… kamu bisa-bisanya mengejekku, sebel.” Kata istriku sambil tersenyum centil
“nah.. gitu dong senyum jadi kaya bidadari yang jatuh dari langit, ya
sudah aku mau mulai kerja, kamu boleh keliling atau mau jajan terserah
aku cepet kok kerjanya” kataku
“tidak ah, aku mau disini aja sama kamu” jawab istriku.
“ya sudah tuk ada makanan ada tv santai aja dulu nanti kita jalan-jalan” kataku.
“ya sudah baik I LOVE YOU” jawab istriku
“Aaa…pa? oh iya iya I LOVE YOU TOO” jawabku tergagap-gagap karena baru mendengar dia berkata I LOVE YOU senang sekali rasanya
Hari pun berlalu aku jalan-jalan main seru-seruan bareng istriku
bahagia sekali rasanya dan sepertinya tak ada rasa mengganjal lagi di
hati, sampai suatu ketika setelah beberapa hari berlalu penyakitku
kambuh, semua keluargaku panik dan membawaku ke rumah sakit.
Aku dirawat dan di temani banyak teman keluarga dan lain-lain istriku
tak henti-hentinya menangis dan menemaniku, menungguku melewati koma.
Tak lama kemudian aku berhasil melewati koma dan aku melihat istriku
yang mulai membengkak kelopak matanya karna terus menerus menangis.
“Istriku kenapa kamu menangis?” kataku
“Akhirnya kamu siuman terimakasih ya Allah.” Katanya sambil memelukku
“sudah jangan menangis kamu” Kataku.
“Iya jawab istriku” tak melepaskan pelukannya
“kamu harus janji kamu tidak boleh menangis apapun yang terjadi nantinya.” Kataku
“iya suamiku aku janji aku gak bakal nangis lagi, aku sayang kamu” kata istriku.
“Aku tidak lama istriku waktuku hanya untuk berpamitan, maafkan aku ya,
inget janji kamu, setelah ini kamu boleh mencari laki-laki lain yang
kamu cintai” kataku
Mendengarnya istri dan keluargaku menangis.
“hey inget janji kamu, jangan menangis aku tidak suka melihatnya” kataku
“i..ya maafkan aku” kata istriku sambil menahan nangis.
“Ibu (vina) dan papak jaga vina ya, bu (ibuku) jagain dia ya maafin
semua kesalahannya. Aku juga minta maaf semuanya, aku tak bisa
memberikan kalian cucu, aku telah mengcewakan kalian, tapi mungkin nanti
akan ada laki-laki yang lain yang akan memberi kalian cucu, jaga dia ya
semuanya jangan sampai dia menangis, aku akan sangat marah jika dia
menangis.” Kataku
Semua diam istiku memelukku semakin erat menahan rasa sedihnya yang teramat sangat.
“aku tidak akan pergi jauh jika kalian kangen kalian hanya perlu melihat
jauh ke dalam hati kalian aku akan ada di sana selamanya, doakan aku
ya. Ingat janji mu vina sambil tersenyum dan menahan sakit, kalian tidak
punya salah sedikitpun kepadaku jadi kalian tak usah khawatir,
lailahailawlah muhamadarasulullah”
Aku pun pergi Vina tak menangis karena dia janji, semua yang terjadi
setelahnya selalu bahagia, Vina menikah lagi dengan lelaki yang baik,
ibuku dan ibu Vina tinggal serumah jadi dia tidak kesepian. Semuanya
menjadi indah seperti yang ku inginkan aku hanya bisa tersenyum
melihatnya dari surga.






