Diberdayakan oleh Blogger.

Senyummu Membuatku Jatuh Cinta


Ads by BetterMarkItAd Options
Namaku Nida, waktu aku pertama masuk SMP aku masuk ke kelas 7a, hmmm… hari pertama aku sekolah di sekolah baruku, aku asik bercanda tawa sama teman baruku. Hari kedua aku bantuin temanku ngeabsen aku cuman lihat siapa yang disebut namanya dia angkat tangan soalnya kan belum tau semua orangnya yang mana kan masih baru dan masih beradaptasi dengan lingkungan sekolah. Temenku menyebutkan nama Husni… aku pun sehentak melihat ke arah mana yang angkat tangan, ternyata dia tak jauh dari bangku ku dia tersenyum padaku, aneh saat melihat senyum itu aku jadi deg-degan tak karuan. Aku tak tau rasa apa itu… aku menghiraukannya dan langsung memperhatikan pelajaran.
Kring… Kring… Kring suara bel istirahat pun berbunyi, aku menyimpan buku catatan dan alat tulisku ke dalam tas dan mengajak teman yang baru aku kenal pas di MOS (masa orientasi siswa) ke kantin.
“Indri… kita ke kantin yukkkk!..”
“yukkk…” sambil membereskan bukunya ke dalam tas
Kita berjalan menuju ke kantin. Pas sampai di kantin aku lihat Husni. Kenapa aku terus memperhatikannya dan anehnya kalau aku ngelewatin dia rasa itu muncul lagi.
Sesampainya di kelas aku gabung sama sekumpulan temanku yaitu Indah, Siti, Dian, dan kita ngobrol bareng.
Suatu hari wali kelas kita menyuruh kita untuk membuat Organigram dan jadwal piket. Aku, Ami, Siti pun langsung mengumpulkan uang dari semua siswa di kelas kita. Setelah itu kita membeli barang yang akan dibutuhkan untuk membuat organigram dan jadwal piket. mengerjakannya di rumah Ami.
“Nid cowok yang kamu sukai di kelas itu siapa sih?”
“Aku tau pasti husni kan!”
‘kenapa dia tau apa aku harus bilang, mungkin dia gak comel kali ya orangnya’ pikirku di dalam hati
“Ehhhh… kok bengong bener kan!”
“sebenarnyaaa…iya sih”
“tuh kan bener”
Aku pikir mungkin dia gak comel kali, langsung aja aku melanjutkan untuk menghias jadwal piket.
Keesokan harinya saat pelajaran berlangsung temen-temenku ribut membicarakan kalau aku suka sama Husni ukhhh… aku pikir Siti itu gak comel, tau-taunya bukan sama temen-temen aku aja dia bilang, tapi dia juga bilang sama Husni juga. Aku gak nyangka dia secomel itu. Dan yang lebih parahnya lagi, dia bikin surat tapi nama pengirimnya itu jadi aku padahal kan Siti yang nulis surat itu bukan aku. Di surat itu ditulis satu kalimat I LOVE U itu juga aku tau dari Siti. Aku sangat malu rahasia ku terbongkar semua.
Beberapa hari setelah itu teman-teman Husni termasuk juga husni pada pindah, aku pikir gara-gara aku dia mau pindah, ternyata enggak katanya sih jauh dari rumah.
Hari demi hari ku lalui tanpa senyumannya. Pada suatu hari dia mengirim surat kepada ku lewat kakak kelas, ku pikir dia menghiraukannya tapi ternyata dia juga suka kepadaku dan kita pun jadian. Memang kita jarang ketemu, mungkin karena kita gak sama sekolahnya.
Agak lama aku pacaran dengannya, tiba-tiba temanku memperlihatkan status di media sosialnya Husni dia tulis dua orang yang dia sukai, aku gak nyangka dia menduakan cintanya, ku putuskan untuk putus dengannya meski berat tapi aku harus putuskan dia.


SELESAI

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Lelaki Sejati

Namaku Doni (27), aku mempunyai seorang istri bernama vina (25). Aku sudah 5 tahun menikah dengan vina namun belum mempunyai anak. Itu semua karena aku memang belum siap memiliki anak. Dan karena sebuah pengalaman yang begitu rumit. Vina adalah seorang istri yang sempurna menurut saya. Namun sangat hina menurut ibu dan bahkan mertua saya sendiri. Walau begitu cintaku padanya tidak akan pernah hilang. Seperti sinar mentari yang tak henti-hentinya menyinari bumi sampai hari akhir kelak akan datang.
Saat itu aku berusia 12 tahun, dan disaat itulah aku merasa semua telah hilang. Laksana rumah tua, yang dahulu indah menjadi buruk dan lapuk. Disaat itu seorang lelaki yang saya hormati dan banggakan pergi menghianati seorang wanita yang sangat saya cintai dan saya kagumi. Setelah kejadian itu saya buta akan dunia saya terjerumus ke dunia gelap. Kerjaan saya hannya mabuk-mabukan, j*di, berkelahi, dan nark*ba. Ketika itu saya benar-benar buta. Namun cinta seorang ibu yang tabah walau, dia sendirian namun masih sanggup menghidupi dan menyekolahkan aku. Saat itu aku bertanya-tanya apa yang membuat seorang ibu tetap mencintai anaknya yang nakal, hina, dan yang pasti hanya menyusahkan. Ketika disuruh sholat saya kabur, disuruh beres-beres saya pura-pura tidur, di suruh sekolah saya bolos, dll. Namun kenapa cintanya tidak pernah berkurang sedikitpun. Aku sangat bingung dan akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya.
“Bu, lagi apa?”, tanya ku.
“Ibu lagi nyuci nak, ada apa?”,kata Ibu.
“Boleh gak saya bertanya pada Ibu?”, aku bertanya lagi.
“Boleh, memang kenapa nak?”,ibu berkata sambil terheran-heran.
“Apa yang membuat ibu sayang sama aku yang sudah menyusahkan ibu, yang sering buat ibu menangis, dan yang paling jahat sama Ibu?” aku berkata sambil menangis.
“cinta sejati seorang ibu pada anaknya tak akan pernah padam walau seluruh hambatan dan rintangan melanda” Ibu berkata sambil tersenyum haru.
“Maafkan aku Bu, aku sudah buta aku sudah membuat Ibu sakit, ditambah kepergian Ayah dengan wanita lain” sang anak menangis sambil memeluk sang Ibu.
“Tak perlu kamu minta maaf, itu semua karena ibu. Ibu tak sanggup mengajarimu sendiri, kamu tidak salah karena tak ada yang bisa mengajarimu menjadi individu yang baik.” Ibu menjawab.
“Mulai saat ini aku akan berubah Bu, aku janji akan membuat ibu bahagia.” Jawab sang anak.
“ya sudaah sana makan dan berangkat sekolah.” Jawab sang Ibu
“Baik bu” jawab sang anak sambil pergi ke meja makan.
Saat itu aku hannya bisa memikirkan janjiku dan aku ingin melupakan kejadian-kejadian yang telah berlalu. Lambat laun aku berusaha dari nol, aku belajar, belajar dan belajar. Sabil berdoa. aku berusaha. Akhirnya usahaku membuahkan hasil aku diterima di Universitas terbaik di indonesia dan mendapat beasiswa. Setelah lulus kuliah aku diterima di perusahaan ternama dan menjadi orang kaya. Aku membuat banyak panti asuhan, panti jompo, musholah, masjid, dll. Janji ku kepada ibu sudah terpenuhi.
Dan tak lama kemudian Ibu bertemu dengan sahabatnya dulu dan berniat menjodohkan aku dengan anaknya sahabat ibu. Aku setuju-setuju aja asal ibu bahagia. Tak lama kemudian aku menikah dengan vina (anak sahabat ibu) namun sepertinya vina tidak bahagia. Dan aku mulai berfikir jika vina adalah ibuku dan aku berfikir tentang ayahku, aku tidak mau menjadi lelaki yang jahat. Dan akhirnya aku berjanji untuk membahagiakannya di dalam hati. Hari itu setelah acara pernikahan, kami berdua masuk ke kamar pengantin. Namun, aku tidak berani memandangnya, aku tau dia tidak ingin menikah denganku. Akhirnya aku berkata memecah suasana.
“Vina maafin aku, Ibuku, dan Ibumu ya, aku tau kamu tidak ingin dijodohkan denganku.” Aku berkata.
“Iya memang aku kesal dengan pernikahan ini.” Seperti marah.
“Ya sudah begini saja kau boleh pacaran dengan lelaki lain, namun tolong jika ada keluarga kita, kita tetap berdua. Ya sudah ini sudah malam kamu tidur di kasur biar aku tidur di bawah saja.” Aku berkata.
“Ya sudah aku tidur, makasih ya kamu sudah mau ngertiin aku.” Jawabnya.
“iya sama-sama.” Jawab ku.
Ke esokan harinya aku membuat sebuah makanan dan minuman untuk vina dan bertanya.
“Ehhh… Vina kamu udah bangun. Ini aku buatkan sarapan untuk kamu, dimakan ya, kalau kamu mau pergi tinggal panggil supir atau kamu boleh bawa mobil ku. Aku berangkat kerja dulu.” Kata ku
“Iya makasih Don, Hati-hati di jalan.” Jawabnya
Sesampainya di kantor aku berfikir tentang keluarga ku dan berjanji akan mencintai vina selamanya. Tak lama kemudian aku sudah mulai akrab dengan Vina namun tetap saja aku tidak berani menyentuhnya. Bahkan aku belum pernah sekalipun menyentuhnya kecuali di pernikahan. aku mulai menyelidiki Vina ternyata dia punya seorang pacar yang ia sembunyikan. Aku sangat sakit saat itu namun apa daya. Itu semua demi kebahagiaan Vina.
Tak lama kemudian Vina jatuh sakit, dia demam namun dia tidak mau dibawa ke dokter dan hanya dirawat di rumah. Karena aku tidak berani menyentuhnya aku menyuruh pembantu untuk memeriksa suhu tubuhnya. Aku jaga dia selama 2 minggu aku tidak kerja aku hanya menjaganya karena aku mencintainya. Akhirnya dia sembuh dan kembali seperti semula.
Tak lama kemudian kepala ku mulai terasa sakit dan aku periksa ke dokter ternyata umur ku tinggal 1 bulan lagi. Karena aku terkena kanker otak. Aku jatuh mendengarnya. Aku rahasiakan itu semua dari keluarga dan Vina.
Beberapa hari kemudian ketika aku pulang ke rumah. Rumah ku terlihat sangat ramai dan ternyata setelah masuk seluruh keluargaku datang dan mereka memergoki Vina dan pacarnya sedang berset*buh. Vina dan pacarnya dibawa keluar dan di marahi oleh ibuku dan kedua orangtuanya. Aku pun sigap melindungi Vina dari pukulan-pukulan yang dilayangkan oleh kedua orangtuanya sendiri.
“Kenapa kamu melindungi dia Doni?” Ibu Vina bertanya.
“Cinta sejati bu” Aku menjawab
“Tapi dia telah menghianatimu” Bapak Vina berkata.
“Aku menjawab tak apa aku sudah tau sejak lama” Jawabku
“Lalu kenapa kau tidak memarahinya?” Tanya Ibuku
“Begini Bu, sebenernya aku sudah tau sejak lama, namun aku tidak mau merusak hubungan mereka. Aku kasian kepada Vina karena telah di paksa menikah dengan ku. Memang aku sangat mencintai Vina namun. Aku juga berterimakasih kepada pacarnya, karena dia telah membuat Vina bahagia, tersenyum, dll. Sedang kan jika dengan aku berbanding terbalik. Aku tidak mampu melihat Vina bersedih hati dan aku tidak mampu membahagiakan dia.” Aku menjelaskan.
“Lalu bagaimana tentang perasaan mu?” tanya Ibuku.
“hahahahaha… tidak apa Bu. Walau sakit rasanya tapi jika melihat senyumnya yang manis menurutku itu sepadan dengan harga yang harus aku bayar. Sudah karena semua sudah ngumpul bagaimana kalau Bapak dan Ibu menginap disini” Jawab ku.
“ibu tak tau apa yang ada dipikiran mu bisa sampai segitunya mencintai anak Ibu yang pendusta ini, maafkan anak Ibu ya nak. Ya sudah kami nginap disini” Jawab Ibu Vina
Keesokkan paginya. Aku berpamitan namun belum sempat aku membuka pintu kepalaku sangat sakit sampai aku jatuh, namun aku berusaha untuk bangkit dibantu Ibu mertuaku. Dan semua berkumpul di dekatku.
“Don kenapa kamu?” Tanya Ibu mertuaku
“Tidak apa-apa bu.” Jawab ku
“Kamu sakit kok muka kamu pucat sekali.” Tanya Ibu mertuaku lagi
“Benar tidak apa-apa” Jawab ku
“jangan bohong pada ibu katakan yang sejujur-jujurnya” kata Ibuku
“ya sudah, aku sedang buru-buru bu kalau ibu mau tau ada apa sebenarnya ibu tinggal pergi ke tempat kerjaku, disana ada meja di atasnya ada amplop dan buku diaryku ibu buka saja amplopnya tapi jangan buka buku diarynya. Assalamualaikum…” jawabku dan berangkat sambil bersalaman.
“Walaikumsalam” semua menjawab.
Dengan rasa penuh penasaran semua orang berlari-lari menuju meja kerjaku dan membuka amplopnya dan alangkah terkejutnya mereka semua melihat penyakit yang kuderita semua menangis karena terkaget-kaget. Dan tak lama kemudian mereka penasaran dengan buku diaryku dan membukanya bersama-sama. Alangkah terkejutnya mereka membaca diaryku.
Dear Diary hari ini Vina sakit tak sanggup rasanya melihat dia terbaring lemah tak berdaya apa itu semua kesalahan ku. Aku tidak bisa menjaganya memang aku adalah lelaki yang bodoh aku tak pantas jadi laki-laki
Dear Diary aku sangat takut dengan penyakitku aku tidak tau harus bagaimana lagi aku belum siap untuk pergi meninggalkan mereka semua, khususnya Vina Cinta sejatiku. Aku tidak tau apa yang membuat aku tidak siap semua yang kusuka aku punya hartaku banyak, aku sering beribadah, namun masih ada yang mengganjal di hatiku. dan setelah kupikir-pikir aku tau yang aku inginkan hanya satu kata yakni suamiku dari Vina namun sepertinya itu tak akan mungkin terjadi.
Dear Diary hari ini Vina kepergok dan dimarahi oleh semuanya aku merasa kasian kepadanya, aku tidak ingin dia di marahi mungkin ini semua karena kesalahku. Aku tak dapat menjadi suami yang baik untuknya jadi dia mencari lelaki lain. Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri namun aku tak dapat berbuat apa-apa.
Setelah malam menjelang seperti biasa aku pulang jam 8 malam. Alangkah terkejutnya aku saat membuka pintu bahkan aku tak sempat mengucapkan salam Vina langsung memelukku dengan erat.
“Maafkan aku suamiku” Vina berkata
“Maaf? Maaf kenapa?” Aku menjawab
“aku telah menjadi istri yang hina” jawabnya
“hehehheee… kamu ini suka melawak, kamu itu sempurna. Tak punya kesalahan, semua kesalahan mu itu karena aku yang tak bisa membahagiakan mu. Kok jadi aneh sifat kalian, Jangan-jangan kalian membuka diaryku?” Aku berkata
“iya kita semua membukanya.” Ibuku berkata
“aduh kan sudah aku bilang jangan dibuka.” Jawabku agak kesal namun dengan wajah tersenyum
“Suamiku sudah berapa lama kamu mengidap penyakit ini?” tanyanya.
“Tidak tau 1 atau 2 minggu yang lalu aku cek.” Jawabku
“lalu apa hasilnya?” tanya istriku kembali
“yaaa… aku terkena kanker otak stadium akhir aku harus di rawat katanya tapi aku gak mau, aku ingin disini aku ingin melihat mu setiap hari, karena waktuku tinggal sedikit.” Jawabku
“maksudnya” semua bertanya.
“begini kata dokter umurku kurang dari 1 bulan dan ini sudah 2 minggu berarti waktuku di dunia mungkin kurang dari 2 minggu.” Jawabku
“apa? Kenapa kamu tidak memberi tahu kami?” semua kaget dan menagis.
Aku elap air mata yang mengalir di kedua pipi manis istriku.
“jangan bersedih, aku tidak bisa karena aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri jika jatuh setetes air mata dari istriku tercinta, aku tidak mau itu terjadi jadi aku minta kalian jangan menangis.” Jawabku
“Ya sudah sekarang kita makan malam, sebelum dingin makanan di meja” istriku berkata sambil mencoba untuk tersenyum.
“nah gitu dong, itu alasan aku tetap mencintaimu karena senyum manis itu, ayo kita makan” kata ku
Semua pergi ke meja makan dan istriku memaksa untuk menyuapiku, dengan mesra dia menyuapiku dan penuh senyum saat itulah aku merasa hidup itu indah.
Keesokan harinya ketika mau berangkat kerja.
“suamiku apa kamu harus kerja hari ini?” tanya istriku
“iya sayang aku harus mengurus beberapa pekerjaan dan pembagian warisan untuk siap-siap” jawab ku
“tapi aku ingin bersamamu” kata istriku
“ya sudah bagaimana kalau kamu ikut kerja denganku? Nanti kita jalan-jalan” jawab ku
“iya aku mau ikut” jawab istriku
“ya sudah ayo kita berangkat” ajak ku
Setelah Vina siap-siap Vina pun pergi dengan Doni ke perusahaan tempat Doni kerja. di perusahaan para karyawan terheran-heran siapakah wanita yang bersama bos Doni. Akhirnya Vina pun dikenalkan dengan para karyawan kantor yang kebanyakan adalah wanita cantik.
“Semua perkenalkan ini Istri saya namanya Vina” Kata saya memperkenalkan istri saya.
“Ow, istri bapak kok saya tidak pernah tau.” Kata Bela salah satu karyawan.
“Iya pak kok saya juga tidak pernah tau.” Kata Melia karyawan yang lain.
“Iya, saya sudah menikah dari dulu tapi saya baru sempat bawa istri saya kesini” Kata saya.
“Iya saya baru bisa kesini sekarang.” Kata Vina.
“Ya sudah sana kembali kerja.” Kata saya
“Baik pak” kata Bela dan Melia
Sesampainya di ruang kerja Vina menannyakan sesuatu kepada saya.
“Suamiku kenapa kamu tidak memilih mereka saja untuk hidup dengan mu, aku tak pantas untukmu maafkan aku”. Kata istriku.
“Aku hanya cinta kepadamu, lagipula aku sudah menikah denganmu, yang ada di hatiku hanya kamu seorang tak ada yang lain di hatiku.” Jawab ku
“tapi kan kalau dengan ku kamu tak bahagia, aku jahat sekali sama kamu, maafin aku” kata istriku sambil menangis.
“Sudah-sudah kok kamu malah nangis sih? Kamu tidak dengar tadi aku hanya cinta kepada mu, aku tak mungkin menduakan kamu, aku tidak mau menjadi seperti ayah ku, lagi pula aku terlanjur cinta sama kamu, sudah jangan menangis mukanya kayak kodok tuh” kataku sambil mengusap airmatanya.
“ihihih… kamu bisa-bisanya mengejekku, sebel.” Kata istriku sambil tersenyum centil
“nah.. gitu dong senyum jadi kaya bidadari yang jatuh dari langit, ya sudah aku mau mulai kerja, kamu boleh keliling atau mau jajan terserah aku cepet kok kerjanya” kataku
“tidak ah, aku mau disini aja sama kamu” jawab istriku.
“ya sudah tuk ada makanan ada tv santai aja dulu nanti kita jalan-jalan” kataku.
“ya sudah baik I LOVE YOU” jawab istriku
“Aaa…pa? oh iya iya I LOVE YOU TOO” jawabku tergagap-gagap karena baru mendengar dia berkata I LOVE YOU senang sekali rasanya
Hari pun berlalu aku jalan-jalan main seru-seruan bareng istriku bahagia sekali rasanya dan sepertinya tak ada rasa mengganjal lagi di hati, sampai suatu ketika setelah beberapa hari berlalu penyakitku kambuh, semua keluargaku panik dan membawaku ke rumah sakit.
Aku dirawat dan di temani banyak teman keluarga dan lain-lain istriku tak henti-hentinya menangis dan menemaniku, menungguku melewati koma.
Tak lama kemudian aku berhasil melewati koma dan aku melihat istriku yang mulai membengkak kelopak matanya karna terus menerus menangis.
“Istriku kenapa kamu menangis?” kataku
“Akhirnya kamu siuman terimakasih ya Allah.” Katanya sambil memelukku
“sudah jangan menangis kamu” Kataku.
“Iya jawab istriku” tak melepaskan pelukannya
“kamu harus janji kamu tidak boleh menangis apapun yang terjadi nantinya.” Kataku
“iya suamiku aku janji aku gak bakal nangis lagi, aku sayang kamu” kata istriku.
“Aku tidak lama istriku waktuku hanya untuk berpamitan, maafkan aku ya, inget janji kamu, setelah ini kamu boleh mencari laki-laki lain yang kamu cintai” kataku
Mendengarnya istri dan keluargaku menangis.
“hey inget janji kamu, jangan menangis aku tidak suka melihatnya” kataku
“i..ya maafkan aku” kata istriku sambil menahan nangis.
“Ibu (vina) dan papak jaga vina ya, bu (ibuku) jagain dia ya maafin semua kesalahannya. Aku juga minta maaf semuanya, aku tak bisa memberikan kalian cucu, aku telah mengcewakan kalian, tapi mungkin nanti akan ada laki-laki yang lain yang akan memberi kalian cucu, jaga dia ya semuanya jangan sampai dia menangis, aku akan sangat marah jika dia menangis.” Kataku
Semua diam istiku memelukku semakin erat menahan rasa sedihnya yang teramat sangat.
“aku tidak akan pergi jauh jika kalian kangen kalian hanya perlu melihat jauh ke dalam hati kalian aku akan ada di sana selamanya, doakan aku ya. Ingat janji mu vina sambil tersenyum dan menahan sakit, kalian tidak punya salah sedikitpun kepadaku jadi kalian tak usah khawatir, lailahailawlah muhamadarasulullah”
Aku pun pergi Vina tak menangis karena dia janji, semua yang terjadi setelahnya selalu bahagia, Vina menikah lagi dengan lelaki yang baik, ibuku dan ibu Vina tinggal serumah jadi dia tidak kesepian. Semuanya menjadi indah seperti yang ku inginkan aku hanya bisa tersenyum melihatnya dari surga.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Good Day

Jakarta pukul 17.00 wib, jakarta diguyur hujan hari ini, “untunglah aku sudah sampai di kostan” kataku sambil tergesa gesa membuka kunci pintu
Aku yang baru saja sampai di kostan segera berganti baju sembari melihat handphone ku “ahh tak ada sms satu pun dari mereka ataupun dia” keluhku menatap handphone
Gak terasa aku Sudah 2 tahun ninggalin kampung halaman, 2 tahun pula aku terlalu sibuk berkutat dengan segala pekerjaan ini. Dan aku bertahan di kerasnya ibukota ini sungguh amat sulit namun aku menjalani dengan santai dan ikhlas meskipun aku hanya sendiri menjalaninya.
Senja telah larut malam pun tiba namun hujan ini tak kunjung reda, aku mencoba menghangatkan diri dengan segelas kopi good day chocolate bersama biskuit yang selalu setia menemaniku disaat cuaca dingin seperti ini. “Ahh membosankan” kataku dalam hati dengan sedikit menguap bersama alunan musik yang terdengar dari handset handphoneku.
Sesaat… aku tertidur dengan musik musik ini, namun tak lama aku terbangun dengan sedikit bunga mimpi yang masih terselip di ingatanku, ingatan yang membawaku terbang ke masa 3 tahun yang lalu. saat dimana aku masih menggunakan seragam putih abu abu itu.
“Hmm kenapa kamu muncul lagi ri” sesalku dalam hati.
“Apa ini mimpi buruk atau apa ini pertanda” ahh apalah aku berfikir macam macam toh ini hanya mimpi..
Aku mengingat kembali masa itu, yah jika aku mengingat kembali masa itu mungkin saat itulah aku terakhir menjalin kasih dengan seorang perempuan, perempuan manis yang pernah jadi kekasihku, riri andaresta gunawan nama yang indah bukan? percayalah seindah itu pola sosok perempuan pemilik nama tersebut.
Sudah lama aku tak berhubungan dengannya, terakhir kali aku tahu kabarnya dari sahabatku katanya ia sedang berkuliah di jogja. yah riri adalah perempuan cerdas dengan banyak keinginan yang ingin ia capai.
Kembali aku ingin mengingatnya setelah lama aku sulit melupakannya, teringat sewaktu kita berdua berbincang dalam romansa kisah cinta..
“Damar wiguna al faruq” panggil riri padaku
“Ada apa Riri Andaresta gunawan”
“hehehe gak kok Cuma manggil aja, lagi apa kamu?” senyumnya manja
“lagi nulis ringkasan materi yang disuruh pak eko.. maaf yah aku gak bisa ke kelas kamu”
Aku dan riri memang berbeda kelas namun setiap jam istirahat riri selalu ke kelas untuk menemuiku atau sebaliknya hanya untuk mengajakku makan ke kantin atau sekedar mengobrol sembari bercanda tawa layaknya pasangan yang sedang kasmaran.
“Iya gak apa apa kok sayang, aku ngerti kok”
“kamu udah makan?” tanyaku
“belum, aku nunggu kamu buat makan bareng”
“emm gitu, ya udah yuk kita makan..”
“tugas kamu kan belum selesai mar..?”
“udah gak apa apa itu kan jadi PR buat minggu depan, nanti malam juga aku masih bisa ngejrjain di rumah kok beyy…” jelasku sebari membelai rambut panjangnya riri
“tapi gak apa apa nih?”
“gak apa apa kok ri, percaya deh aku beresin buku aku dulu yah terus kita ke kantin ok!”
“iya makasih yah marr…”
“sama sama my sweet angel”
Aku dan riri seringkali ke kantin kita selalu melakukan hal yang sama berbincang dan menghabisakan waktu jam istirahat,
“kamu mau makan apa ri?”
“aku pengen makan mie ayam sama es buah hari ini”
“oh iya aku pesenin dulu yah..”
“iya jangan lama lama yah beyy”
“iya manis.. tunggu yah” kataku meninggalkan riri sambil membelai rambutnya.
Beberapa menit mungkin aku meninggalkan riri untuk memesan makanannya.. seperti biasa hari ini hari rabu entah mengapa riri selalu memesan mie ayam di hari rabu.. mungkin riri sudah menjadwal menu makanannya.. hehehe itulah riri.
“Bang saya pesen mie ayam, siomay sama es buahnya 2 yah bang, nanti anter ke tempat biasa” pesanku
“siap boss, neng riri nya kemana kok gak kesini” tanya bang jaki
“riri disana, dia saya suruh nunggu aja, ya udah mang nanti antar aja yah nih uangnya” ujarku sembari membayar
“yah nanti abang anter”
“makasih yah”
“sipp”
Aku kembali menemui riri yang sedang asyik dalam lamunannya
“dorrr…” aku mengagetkan riri
“ih kamu ngagetin aku aja sih marr”
“abis kamu ngelamun aja, mikirin appaan sih”
“enggak tadi aku lihat si bella sepupu kamu, terus dia nanyain kamu”
“ngapain bella nanyain aku”
“enggak tahu, aku suruh nunggu bella nya gak mau dia malah pergi”
“ohh, namanya juga bella mana mau disuruh nunggu”
Banyak cerita yang riri ceritakan dari teman hingga pelajaran, kelurgaku sudah cukup dekat mengenal riri begitu juga denganku dan keluarganya..
Cinta buat kami memiliki dunia.. cinta pula yang membuat hariku berwarna..
“siang neng riri” sapa bang jaki
“siang bang”
“oh iya mas damar, ini pesanannya.. mie ayam buat neng riri sama siomay buat mas damar, gak lupa 2 es buah”
“makasih yah bang” jawabku.
“iya mas sama sama, neng riri dan mas damar ada yang bisa dibantu lagi?”
“enggak kok bang makasih yah” ujar riri
Aku dan riri menikmati makanan yang diantar bang jaki, dan tak jarang riri berusaaha menyuapiku walau aku sering menolak karena malu tapi ia tetap berusaha menyuapiku, banyak hal yang aku lewati bersama riri, dalam hal ini riri adalah seseorang yang simple yang mampu membaca fikiranku. Entahlah apa mungkin riri mempunyai indra ke 6?, aku pun tak mengetahuinya.. dan saat ini bidadari yang menjelma di hadapanku ini adalah seorang riri.
Riri, mungkin dunia sedang iri melihat kita, melihat kita yang sedang memilikinya, tapi aku sangat menikmatinya.
Pulang sekolah biasanya aku mengantarkan riri ke rumahnya, namun tidak hari ini riri mengatakan bahwa hari ini ia sedang ada tugas kelompok yang ingin ia kerjakan bersama teman temannya, aku mengerti riri adalah siswi pintar yang tak pernah mengabaikan pelajarannya, nilai tambah untuknya dia mampu membagi urusan cinta dan pelajaran, dan ia tak pernah tergoyahkan dari juara kelas..
Karena hari ini aku sedang tidak bersama riri, aku berusaha menemui bella, yang ingin menemuiku sewaktu istirahat tadi, aku menemui di depan kelasnya, hmm seperti biasa pak ibnu mata jam pelajaran bella di hari rabu, jam terakhir pula pertanda pulang lama.. keluhku dalam hati..
Sembari menunggu bella aku berusaha membagi perhatianku pada seorang perempuan di sampingku, yah karena depan kelas bella tersedia kursi panjang tempat mereka duduk duduk santai depan kelas sewaktu jam istirahat, aku berusaha menyapanya agar kesunyian ini terisi oleh obrolan yang tidak terlalu menjemukkan..
“nunngu teman juga?”
“iya..”
“siapa nama temennya ”
“gita.. ”
“ohh gita, kamu kelas berapa?”
“kelas 2 penjualan 1..”
“ohh.. kenalin gue damar, saudaranya bella temenya gita”
“gue dira, temenya gita”
Kami saling berbicara menunggu orang yang kami tunggu, usut punya usut ternyata dira adalah sepupu gita sahabatnya bella.. wah ternyata di sekitar bella banyak wanita cantik tidak hanya sahabatnya saudara sahabatnya pun cantik cantik…
Aku banyak mendengarkan dira, ternyata dira asyik juga orangnya nyambung dan ngak BT’in. akhirnya bella keluar kelas menemuiku, begitu pula dengan gita sepupunya dira, yang tengah lama kami tunggu..
Seperti biasa bella selalu menatapku dengan tatapan teduh seakan mengantuk entahlah mungkin memang tipikal mata bela mata burung hantu atau mungkin mata orang yang mengidap cacingan hehhehehe…
“marr”
“iahh bell lama amat kamu keluarnya?”
“biasalah pak ibnu, kaya gak tahu aja kamu”
“ehh kenalin ini dira saudaranya gita” ucapku pada bella
“udah tahu kok, dari gita”
“hehehe iah mar dira sering kali ke kelas aku” ujar gita
“lho kok aku gak tahu yah?, kalau kamu punya saudara cewek…”
“huh… kamunya aja yang gak pernah ke kelas kita ya gak tha?”
“hehehe iah bell” jawab gita
“bener gitu ra?” tanyaku pada dira
“iya kak damar..”
“Hehehe jadi malu aku sama kalian, ternyata aku toh yang baru kenal sama dira” sipuku malu
“kayanya udah waktunya pulang nih mar, bell, kita duluan yah marr, bell”
“iya hati hati yah gitt, raaa…”
Akirnya gita dan dira meninggalkan aku dan bella di depan kelas, memang nampaknya bella ingin bicara banyak padaku, tak biasanya bella tidak menawari untuk jalan bareng seusai sekolah kepada temannya denganku, aku semakin penasaran apa gerangan yang ingin bella bicarakan,
“Issabel.. apa yang ingn kau katakan?”
“Damar kamu tahu kan aku saudara kamu, dan kamu tahu juga seberapa sayangnya aku pada kamu saudaraku?”
“iya aku tahu, memang kenapa kamu ngomong gitu”
“tentang riri, marr..”
“ada apa dengan riri”
“riri aku lihat kemarin berduaan di taman kota bareng reky”
“Apa?” aku terkejut mendengar kata kata bella.
“iya aku kemarin ngelihat riri sama reky di taman kota, disana dia lagi berduaan kebetulan saat itu aku sama gita mau nengokin Nhisa..”
“tapi apa kamu gak salah lihat bell, selama ini aku percaya sama riri begitu pula dengan riri..”
“awalnya aku juga gak percaya marr.. tapi aku ngelihat dengan mata kepalaku sendiri kalau riri lagi berduan sama reky…”
Satu sisi bella adalah saudaraku dan di sisi lainnya riri adalah wanita yng sangat aku cinta, apakah mungkin ia menghianatiku setelah 2 tahun aku menjalin kisah denganya, aku bimbang, ahh riri sedang apa kau saat ini, ada apa denganmu..
Aku mencoba menghubungi riri, namun apa daya handphone riri tak jua aktif, apa benar apa yang dikatakan bela?.
Aku mencoba menahan diri, mencoba membuktikan dengan semua kata kata bella.. ku putuskan aku dan bella lekas pergi menuju taman kota, yah taman kota memang tempat yang asik untuk bekumpul dengan teman, keluarga bahkan kekasih, tibalah aku di taman kota mengelilingi tanpa henti mata ku mencari bersaama bella, tiba tiba bella menepuk bahuku sembari menunjuk sepasang kekasih yang sedang berduaan..
“marr, lihat..” kata bella
Aku tak menyangka dengan apa yang kulihat, tapi aku masih saja menyangkal kalau itu riri, lalu kuputuskan untuk mendekat dan memastikan bahwa itu benar benar bukan riri kekasihku…
Langkahku kian dekat saat kulihat rambut panjang riri memastikan bahwa itu memang benar benar riiri…
“riri” nada ku kesal..
“damar, marr aku mohon ini bukan seperti apa yang kamu bayangkan marr”
“apalagi rii, katanya kamu mau tugas kelompok, tapi kamu malah berduaan dengan laki laki ini sahabat aku rii” debatku dengan riri
“marr denger dulu gue marr” ucap reky.
“diem lu rek, saahabat macam apa lu rek, lu tahu kan gue pacarnya riri bisa bisanya lu pegangan tangan mesra sama kekasih sahabat lu sendiri”
Entah mengapa reky dan riri terdiam terlebih riri yang hanya bisa menangis..
“kalau kalian memanag ingin berasatu silahkan, gue yang akan mundur, buat lu rek, selamat udah bisa mencuri hati riri, dan buat kamu ri, maaf kalau aku selama ini gak bisa jadi lelaki yang kamu inginkan, dan hubungan kita cukup sampai disini ri, gue kecewa sama kalian” kataku
Entah apa yang kurasa yang jelas tak lama setelah itu aku pergi, hanya bella sepupuku yang mngikutiku dan memberiku support..
“marr lo gak apa apa kan?”
“please isabell, gue pengen sendiri disini” memalingkan muka dari pandangan bella
Aku pergi dan tibalah Aku sendiri di halaman dekat sekolah yang biasa kuhabiskan waktuku bersama riri… tak lama hujan pun turun, Hujan ini seperti menutupi tangisku tentang apa yang telah terjadi hari ini.. aku tak mampu berfikir apapun kecuali tentang sikap riri dan perbuatannya yang sampai hati menghianati cintaku, entah apa rasa yang tengah kurasakan Kalut itulah kata yang mungkin tepat untukku saat ini.
Seminggu atau bahkan 2 minggu aku tak menghubungi riri begitu pula denaan reky, sebaliknya dengan mereka tak berusaha menghubungiku setelah kejadian itu, tak sengaja aku dapat kabar bahwa reky dan riri sudah menjalin cinta sebagai sepasang kekasih.
Hari hari yang kuhabiskan di sekolah hanya bersama bella memulihkan apa yang telah terjadi sampai aku mampu melupakan kisahku bersama riri dan kekecewaanku padanya dan sahabatku..
2011 aku dinyatakan lulus SMA, aku pun langsung pergi meninggalkan kampung halamanku melupakan semua yang telah terjadi, aku diterima sebagai karyawan di salah satu perusahaan, riri kudengar ia bekuliah di jogja sedangkan reky bekuliah di bandung, aku berusaha menghilangkkan jejakku dari mereka yang memberiku luka hati namun jujur aku tak pernah memiliki dendam pada mereka..
Dan di akhir tahun 2013 ini aku masih saja belum menjalin kisah dengan yang lain hanya karena aku masih menyayangimu sekaligus membenci kisah tentang kamu dan reky di masa lalu. susah payah aku melupakanmu, namun tiba tiba kamu kembali dalam mimpi yang terselip di ingatan nyataku kembali..
Hujan itu memang indah kembali ku kumpulkan sedikit demi sedikit alam sadarku dan kunikmati kopi panasku sembari tersenyum bahwa riri pernah ada di lembaran masa laluku..
Hmm nampaknya hari esok akan cerah,


Selesai.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS